Puisi ‘Waktu

Oleh: Taslim Husair (PSP 19)

Aku selalu bercerita tentang waktu, tentang kita
Serupa kekasih yang berjanji untuk setia
Tanpa ada ruang kosong dari kidung hati
Selubung kenangan yang menusuk hingga dasar
Menyebutmu, membilah menjadi dayu seruling
Tempat kita menjadi puisi
Bahkan, kuselipkan kolong nada rindu masih untukmu
Memilih hari untuk kita kisahkan
Maka hanya kamu yang tahu untuk siapa

Jika isi kepalaku aku keluarkan
Hanya akan ada sketsa angka-angka pada jam
Yang setiap geraknya bercerita tentang lakon kenangan
Dengan instrumen musik yang ramah
Ada kerinduan disana, pada kelakuan kita
Seperti jalan setapak menuju rumah sederhana
Pada pagi dingin yang mengaburkan sinar matahari

Seperti halnya denganku yang selalu bercerita tentang pagi
Pukul 07:00 di rumahmu,
Ada sepasang mata yang berat melihat cahaya pagi
Menelisik jendela kamarmu, akulah orangnya
Hingga kau menyiangi kesalahan Melalui perantara surat yang manis untukku
Terselip di dekat bibir yang basah
Dengan sisa-sisa mimpi yang menahan lapar
Mengusap wajah dari kesadaran yang setengahnya masih renyah tertidur

Aku kian menemui bentuk sebuah peristiwa
Perihal surat yang apik berbenah
Dirangkum dari kata, tumpah diluapan yang berperasaan
Mengalirkan kesadaran yang acak dalam dada
Bagai sepasang mata seakan terbit dari tiada
Berkumandang sebelum sempat bersuara

Melisankan tulisan yang dimatangkan kesendirian matahari
Menjelma keluasan padang-padang dari gerak jam yang terus berdetak
Seperti melayari sisa kemalasan dan kesalahan
Memahami pukul 09:00 di rumahmu, mengindahkan kita
Kumandikan dinding-dinding tubuhku bergegas membangun musim
Pada selir yang dijahit dari kisahmu

Pukul 10:00 di halaman rumahmu
Adalah kursi yang amat rupawan menikmati terang
Bergegas pada tatapan rayu pada derunya angin
Kita menghelai mesra gemulainya mereka
Melangkah lembut dengan sepatu halus berdebu Penuh pesona menyegarkan mata
Segala hal milik mereka memimpin logika
Menyenangkan canda kita menerbangkan senyum

Pukul 11:00 adalah waktu jeda kita, sepasang angka satu yang berpasangan
Seperti halnya simbol tampilan pemutar musik yang ada
Sebuah jeda dari kehampaan oleh perut yang tawar
Sebab makanan dan letak yang tak pernah lerai
Pada dedaunan pisang yang berbaur apik berbaris
Serupa dilema yang mengeluh untuk berulang

Kadang, aku menganggap sianglah yang teramat panjang
Tepat pada pukul 12:00 di rumahmu,
Aku selalu mengeluhkan terik dikepulan panas
Menciut diatas meja kerja keseharian kita Tentang segala hal menjadi cair dalam sejuk
Selaksa terang melumatkan haus yang pekat
Ataukah mengejar pukul 15:00 yang penasaran
Sebab kita selalu bergumam gerimis
Dari lolucon yang amat kental atau kantuk yang lelah

Pukul 16, 17, dan 18:00 di rumahmu
Tentang pelataran sore dan kedalaman raut senja
Keriangan yang sederhana pada harimu
Suara pelataran sore yang tak lagi lelah dipangkuan waktu
Kita terkesiap diantara tabuhan gendang, lentik jari yang menari,
Dan suara violin melarut dilangit senja beranda rumahmu
Mengekspresikan ribuan karya yang dijumpai senja dan matahari tua,
Akan aku ceritakan selalu
Bagai sepasang lengan yang rindu pulang kesebuah pelukan

Banyak peralihan malam yang telah kita lewati
Pada detak jamnya dengan kisah yang berbeda
Hari, bulan, dan bahkan tahun yang berbeda di rumahmu
Pagi yang berbahagia dan malam yang gelap remang ataukah sebaliknya,
Semuanya adalah sampiran kita

Pukul 19:00 di rumahmu,
Kita memahami malam yang sejuk
Sedang kepul asap rokok menerawang imajinasi
Bermukim di pelataran bulan menaungi rumah kita
Kembali, aku katakana malam yang sederhana

Pukul 20:00 berderet hingga dipangkuan 4 jam yang hangat
Pukul 24:00 pikirku, cerita dan kisah kita tak akan pupus
Seperti malam tak akan sanggup menanggung kesemuanya
Kita, bagai disudut langit mengamati bintang dan bulan bercengkrama dalam jarak
Menari dipekan langit, menyenangkan keresahan kita tentang kekasih

Di malam yang lain diingatan yang menyakitkan
Pukul 01:00 kupelajari isyarat langit yang semakin menghitam
Rembulan menyendiri ditinggalkan sepi yang sunyi
Perlakuan angin yang begitu saja buncah
Bagai belatih tajam terhunus membelah dada menyakitkan kenangan
peristiwa yang tak kunjung lepas di pematang jiwaku,
tak mampu mengabadikan mendung di binar matamu.

Pukul 02:00 dideretan malam yang lelap
Angin bertiup dengan kabar duka yang menerawang pahit
Hendak membunuh malam dalam pelampiasan amarah pedih
Sejenak nafasku berhenti menghirup setiap denyut kejadian
Rasa menyeret raga dipersimpangan tak terjawab
Rumah kita, tertelan api menghitamkan kenangan sebuah kematian kecil
Merengkuh amarah dalam eratnya dendam bagai menghukum malam
Yang dirintih dari kepedihan

Kita, menerawang langit yang pucat dipeluk derita
Sakit begitu dalam membunuh perasaan yang haru di ujung mata
Menyaksikanmu tak berdaya diantara kobaran api melalap mematikan raga
Melantangkan sumpah serapah pada malam dilengking angin yang duka
Sudah penuh peluh di dada,sabar yang lelah pada hati
Biarlah aku mencari, biarlah
Aku tak akan mundur meski harus beradu nafas
Biarlah aku mencari , segalanya telah hitam

Didetak tangis pukul 2, 3, 4, 5:00 dirumah kita,
Kesakitan yang membelah dalam menusuk dada
Air mata mengalir menjangkau kenanganmu tertikam sembilu,
Mengiris kalbu, mengiris lara perlahan kerelung jiwa
Yang sendu melihatmu, aku melihatmu, aku melihatmu
Diam didesak duka, aku melihatmu!

Pukul 06:00 di rumahmu
Cahaya aku menunggu tegur hangatmu yang megah
Sebab, aku melihat malam melangkah sempoyongan
Menembuh kabut-kabut amarah di jalan-jalan
Bulan telah lama sirna, bulan telah lama bersembunyi
Dalam ketakutannya,

Cahaya aku menunggu tegur hangatmu,
Yang datang tersepuh mengecup santun
Yang datang membawa bias embun pagi
Di altar suci memekarkan harapan

Cahaya aku menunggu tegur hangatmu,
Senyum dari timur pun merekah ramai memanjakan mata
Rasaku hanyut membenam luka

Waktu; pahit, manis, gelap dan terangnya akan menjadi cerita
Waktu adalah kita

Makassar, 20 Maret 2016