Empirisme Lalu Kita
Oleh Wahyu Gandi
Suatu waktu saat menjelang bahagia, aku merasa sudah sangat bahagia
Seperti salju yang selalu mengingat musimnya yang dingin
Saat semua kabut di lembah hatiku mulai hilang, lalu kemudian cerah lagi
Siraman air mata kemudian, rintik bersama di atas punggung sebuah rumah yang
Suatu saat akan menemui penghuninya

Aku janji tak akan menanyaimu hal itu
Juga meminta untuk menikmati air matamu
Alasanku sadar bahwa ayunan kakimu setiap hari membuatku merasa
Sengaja buat mendekatkan dirimu dengan takdir cintamu
Jawabanmu belum datang, alasan yang kau kuatkan buat menjujurkannya

Angin itu menerbangkan kita
Mengajak kenangan kita bermain-main di udara
Lalu menerbangkan janji kita, nampak kau bahagia di tengah cerah

Bukti bahwa foto ini membekukan kenangan kita
Pengalaman yang justru menjauhkan kita, seperti senja yang terbatas melupakan sorenya

Aku lupa pada waktu
Pura-pura menemukan hal yang memiliki
Juga pura-pura merasakan rindu saat tersakiti
Aku sama sekali melupakan kapan waktu itu
Kalau hujan, kau merasakan dingin. Padahal, itu hanya rinai

Saat belum kutuangkan yang mengajarkanku
Sedari bagimu, kenangan hanya bekas yang selalu membelenggu
Sudah kunyatakan pada sepinya ingatanmu
Saat kurindukan kau dalam ingatanku.